Menyikapi Perpisahan Anak ke Pondok dengan Cara Positif

 

Menyikapi Perpisahan Anak ke Pondok dengan Cara Positif

Perpisahan dengan anak untuk pertama kalinya adalah salah satu ujian hati yang paling berat bagi orang tua. Saya merasakannya sendiri ketika 16 Januari 2026 lalu, anak perempuan saya harus berangkat ke pondok. Ada rasa haru, bangga, sekaligus rapuh yang bercampur menjadi satu.

Saya merasa justru semakin dekat dengannya ketika hari keberangkatan itu tiba. Saat memandang punggungnya melangkah masuk ke gerbang pondok, hati saya seakan ikut berjalan bersamanya. Dalam hitungan detik, muncul dorongan kuat untuk berlari mengejarnya dan berkata, “Kita pulang saja, kak!”

Mengingat momen itu saja, air mata masih mudah menetes.

Namun di balik perasaan sedih, saya tahu ada alasan besar yang membuat kami mengambil keputusan ini. Saya menyadari, ketika ia tidak berada di lingkungan pondok, hafalannya perlahan banyak yang hilang (terbukti saat satu semester ia bersekolah di luar pondok). Belum lagi pengaruh handphone dan pergaulan yang semakin kompleks di zaman sekarang.

Hati kecil saya bilang, “pondok adalah tempat terbaik untuk menjaga hafalannya, akhlaknya, dan lingkungannya.”

Akhirnya, saya memilih untuk menyikapi perpisahan ini dengan cara yang lebih positif.

Alih-alih larut dalam kesedihan, saya mencoba mengubah rasa rindu menjadi doa. Dampak yang paling terasa justru pada diri saya sendiri. Saya menjadi lebih sering bangun di sepertiga malam. Doa-doa saya terasa lebih panjang dan lebih dalam. Ada perasaan tidak ingin “kalah” dalam beribadah dibandingkan dengan anak saya.

Ketika rasa lelah menyerang dan alarm tahajud berbunyi, sering kali muncul bayangan anak perempuan saya.

“Dia yang di sana, di cuaca dingin, tetap semangat bangun pukul 4 untuk tahajud. Kenapa saya justru bermalas-malasan?”

Pikiran itu seperti cambuk yang lembut namun tegas. Saya pun bergegas mengambil wudhu dan berdiri dalam shalat. Tanpa saya sadari, kepergian anak ke pondok bukan hanya mendidiknya menjadi lebih baik, tetapi juga mendidik saya sebagai orang tua.

Tepat tiga minggu setelah ia di pondok, saya mulai merasakan perubahan dalam diri. Rasa sedih yang awalnya mendominasi perlahan berubah menjadi rasa ikhlas dan bangga. Saya belajar bahwa perpisahan bukan berarti jauh. Perpisahan adalah bentuk ikhtiar untuk anak, kepercayaan kepada anak, kepada proses, dan kepada Allah.

Penutup

Perpisahan ini mengajarkan saya satu hal

Menyayangi anak tidak selalu berarti menggenggam erat untuk selalu berada disisi kita, justru, merelakan dengan doa panjang agar sama sama tumbuh bareng dan sama-sama dekat dengan Allah.

Bagi para orang tua yang sedang berada di fase yang sama, tidak apa-apa diri untuk merasa sedih. Merasa bersalah. Khawatir. Namun, sebentar saja. Titipkan ananda kepada Allah dengan banyak doa. Jadikan, perpisahan ini sebagai awal tumbuh bareng baik anak maupun orang tua. Saat anak belajar mandiri di pondok, kita pun sedang belajar menjadi orang tua yang lebih kuat, lebih sabar, dan lebih dekat kepada-Nya.

Komentar